Bagaimana Lenin Menggiring pada Munculnya Stalin

Standard
Vladimir_Lenin_and_Joseph_Stalin,_1919

Vladimir Lenin and Joseph Stalin, 1919

BAGI kaum kiri-jauh Leninis, ambruknya Republik Sosialis Uni Soviet telah melontarkan lebih banyak pertanyaan ketimbang yang terjawab. Kalau Uni Soviet benar-benar merupakan sebuah ‘negara pekerja’, mengapa para pekerja tidak mau mempertahankannya? Mengapa mereka justru menyambut hangat datangnya perubahan?

Apa yang terjadi pada “revolusi politik ataukah kontra-revolusi berdarah”-nya Trotsky? Organisasi-organisasi Leninis yang tak lagi memandang Uni Soviet sebagai negara pekerja juga belum bisa lepas dari kontradiksi-kontradiksi tersebut. Kalau memang Stalin merupakan sumber permasalahan, mengapa ada begitu banyak pekerja Rusia yang menyalahkan Lenin serta pemimpin-pemimpin Bolshevik lainnya?

Continue reading

Advertisements

Hubungan Marxisme Libertarian dan Anarkisme

Standard

oleh Wayne Prince (terjemahan)

 

… Kusimpulkan sekali lagi, dan lagi ,bahwa apa yang secara perlahan dan tidak sempurna kutuju secara penuh dan terang-terangkan (bisa saya katakana, begitu indah) adalah apa yang dikatakan oleh Karl Marx. Jadi, aku juga adalah seorang Marxis! Aku memutuskannya secara tegas, bahwa hal ini sangat baik menjadi tradisi dan memiliki kawan-kawan yang bijak. Ini adalah Marx sebagai seorang psikolog sosial. Tapi sebagaimana aksi politik yang terhormat … saya tidak melihat slogan-slogan para Marxian, termasuk Marx sendiri, yang menuju ke sosialisme yang damai (yaitu hilangnya negara dan kekuatan koersif lainnya); justru mereka menghindari hal ini. Bakunin memang benar. Dan saya sepakat dengan Kropotkin. (Paul Goodman, 1962; 34)

Saat ini arus kebangkitan kembali anarkisme di seluruh dunia dijadikan landasan atas kemunduranMarxisme. Meski demikian, ini menyisakan sebuah pertalian antara Marxisme (Marxisme libertarianatau otonomis) dengan kaum anarkis yang memiliki kedekatan dan bahkan menjadi pengikut anarkisme.

Adalah kualitas dari bentuk libertarian-demokratik, humanis, dan anti-negara yang memungkinkan kalangan anarkis memakai aspek-aspek yang berasal dari Marxisme (seperti analisis ekonomi ataupun teori perjuangan kelas). Walau masih mengandung beberapa kelemahan mendasar dari Marxisme. Dandalam beberapa hal bahkan juga sebagai kelemahan dari banyak varian anarkisme, ketimbang menjadi alternatif. Versi Marxisme yang ini memiliki banyak kesamaan dengan pandangan kaum anarkis walau tetap masih ada yang secara mendasar cacat, sebagaimana yang akan kujelaskan.

Continue reading

Noam Chomsky: Jawaban terhadap Anarkisme

Standard

Noam-Chomsky-1.jpg

oleh Tom Lane, 23 Desember 1996

Pengantar

Meski Chomsky telah menulis cukup banyak mengenai anarkisme dalam masa tiga dekade terakhir, acap kali orang-orang memintanya menjabarkan secara lebih nyata pandangannya soal perubahan sosial. Analisis politik Chomsky jarang sekali gagal untuk menimbulkan kegeraman and kemarahan terhadap cara dunia ini bekerja. Namun banyak dari pembacanya telah ditinggalkan dengan ketidakpastian mengenai apa tepatnya yang akan dilakukan Chomsky untuk mengubahnya. Mungkin karena menghormati kerja analisisnya, mereka mengharapkan dia akan menggelar tujuan dan strateginya dengan presisi dan kejernihan serupa. Namun mereka hanya akan kecewa dengan komentar yang umum tentang nilai-nilai sosialis libertarian. Apalagi bagi mereka yang mungkin banyak menoleh kepada intelektual besar ini untuk sebuah “rencana induk” bagi mereka untuk diikuti selangkah demi selangkah ke masa depan yang gilang gemilang.

Chomsky menjauh dari memberikan pernyataan-pernyataan semacam itu. Dia memperingatkan bahwa sulit untuk menerka bentuk organisasi sosial yang lebih pantas, atau bahkan mengetahui dengan pasti apa alternatif ideal sebagai pengganti sistem saat ini. Hanya pengalaman yang dapat mengungkapkan jawaban yang terbaik bagi pertanyaan ini, kata dia. Apa yang dapat membimbing kita sepanjang perjalanan menuju ke sana adalah sejumlah prinsip umum yang mendasari bentuk spesifik dari masyarakat masa depan kita. Bagi Chomsky, prinsip-prinsip itu muncul dari kecenderungan sejarah arus pemikiran dan tindakan yang dikenal dengan nama anarkisme.

Chomsky memperingatkan bahwa sedikit yang bisa diceritakan mengenai anarkisme pada tingkat yang sangat umum.. “Saya belum mencoba menulis sesuatu yang sistematis mengenai topik ini, saya juga merekomendasikan tulisan orang lain,” tulis dia kepada saya sebagai balasan atas setumpuk pertanyaan mengenai subyek ini. Dia telah menulis di sana-sini mengenai anarkisme, terutama di dalam karya-karnyanya belakangan. Namun tak terlalu banyak yang dapat nyatakan secara umum. “Ketertarikan saya terletak pada penerapannya,” ungkapnya dia, “namun hal ini sangat sesuai waktu dan tempat”.

“Di Amerika Latin,” kata Chomsky, “Saya telah berbicara banyak mengenai topik ini. Jauh lebih penting lagi, belajar mengenai hal-hal tersebut dari rakyat yang benar-benar melaksanakannya, sebagai sebagai tantangan yang bernuasa anarkis. Saya juga berkesempatan bertemu kelompok-kelompok anarkis yang menarik dan hidup. Dari Buenos Aires (Argentina) hingga Belem (Brasil) di mulut Sungai Amazon (yang terakhir ini saya tak tahu sama sekali mengenai mereka – amat mencengangkan bagi saya, lokasi kawan-kawan kita muncul). Namun diskusi jauh lebih fokus dan spesifik ketimbang yang saya lihat disini; dan dengan cara yang tepat, saya pikir.”

Seperti itulah respon Chomsky sebagai tanggapan atas masalah-masalah ini sangat umum dan ringkas. Bagaimanapun, sebagai sebuah pengantar singkat untuk beberapa pemikirannya mengenai anarkisme, mungkin bisa menginspirasi para pembaca, mengejar tulisan lain mengenai bahasan ini (sebuah daftar berada di bagian akhir bahasan ini). Dan lebih penting lagi, untuk mengembangkankonsepnya mengenai anarkisme melalui proses kerja masyarakat yang merdeka dan demokratis.

Tom Lane 

Komentar umum atas semua pertanyaan:

Tidak ada yang memiliki istilah “anarkisme.” Ia dipergunakan secara luas oleh berbagai arus pemikiran dan tindakan yang beragam. Banyak self-style anarkis yang menekankan, kadang dengan sangat semangat, bahwa pemaknaan mereka yang paling benar, dan yang lain tak pantas menggunakan istilah ini (dan mungkin mengkriminalkan yang lainnya atau semcam itu). Sebuah pengamatan akan kepustakaan anarkis terkini, khususnya di Barat dan di antara lingkaran intelektual (mereka mungkin tak suka istilah ini), dengan segera terlihat bahwa bagian terbesar dari penolakan mereka terhadap penyimpangan yang lain, mirip yang terjadi dalam literature-literatur sektarian Marxis-Leninis. Rasio materi-materi semacam ini dibandingkan karya-karya konstruktif lain sayangnya justru sangat tinggi.

Secara pribadi, saya tak punya keyakinan mengenai “jalan yang benar” dalam pandangan saya sendiri, dan saya tidak begitu takjub dengan penyataan keyakinan yang diucapkan orang lain, termasuk sahabat-sahabat saya sekalipun. Saya merasa bahwa sangat sedikit yang telah dipahami untuk dapat bertepuk dada dengan yakin. Kita dapat merumuskan visi jangka panjang, tujuan, ideal kita dan kita dapat (dan semestinya) mendedikasikan diri untuk isu yang bertalian dengan kemanusiaan. Namun jurang perbedaan di antara keduanya acapkali cukup besar, dan saya jarang melihat jalan untuk menjembataninya kecuali pada tingkat yang sangat samar-samar dan umum. Kualitas diri saya (mungkin kurang mampu, mungkin juga tidak ) akan muncul dalam tanggapan (yang sangat singkat) saya terhadap pertanyaan Anda.

1. Apa akar intelektual dari pemikiran anarkis, dan gerakan apa yang telah berkembang dan menjiwai sepanjang sejarahnya?

Arus pemikiran anarkis yang menarik perhatian saya (yang banyak jumlahnya) memiliki akar, saya pikir, dalam masa Pencerahan dan liberalisme klasik, dan bahkan dapat dilacak lebih dalam lagi di dalam cara yang sangat menarik pada revolusi ilmiah di abad 17, termasuk aspek yang kadang dianggap reaksioner, seperti rasionalisme Cartesian. Terdapat sejumlah bahan bacaan atas topik ini (sejarawan pemikiran seperti Harry Bracken, salah satunya. Saya telah menulis tentang hal itu juga). Tidak berupaya menggurui disini, kecuali saya katakan bahwa saya cenderung bersepakat dengan penulis dan aktivis terkemuka anarko sindikalis, Rudolf Rocker, bahwa ide-ide liberal klasik dirusak oleh terjangan kapitalisme industri, dan tak pernah pulih kembali (saya mengacu pada karya Rocker di tahun 1930-an; beberapa dekade kemudian, dia mengubah pemikirannya). Ide-ide ini telah diciptakan ulang terus menerus; menurut pendapat saya, karena mereka mencerminkan kebutuhan dan pemahaman nyata manusia. Perang Sipil Spanyol mungkin merupakan contoh yang paling penting, meski kita harus ingat bahwa revolusi kaum anarkis yang menyapu sebagian besar tanah Spanyol tahun 1936, yang mengambil berbagai bentuk, bukanlah sebuah kebangkitan yang spontan, namun telah dipersiapkan dalam beberapa decade sebelumnya dengan pendidikan, organisasi, perjuangan, kekalahan, dan kadang kemenangan. Ia momen yang sangat penting. Cukup mampu hingga memancing kemarahan seluruh sistem kekuasaan besar: Stalinisme, Fasisme, Liberalisme barat, arus pemikiran intelektual kebanyakan dan institusi pencuci otak mereka – semua bergabung untuk mengutuk dan merusak revolusi anarkis, sebagaimana dilakukan mereka; sebuah tanda betapa berarti peristiwa itu, dalam pandangan saya.

2. Banyak kritik yang menyebutkan bahwa anarkisme “tanpa bentuk, utopis.” Anda menanggapinya dengan mengatakan bahwa setiap tahapan sejarah memiliki bentuk otoritas dan penindasannya sendiri yang mesti kita lawan, karena itu tak ada doktrin baku yang dapat ditetapkan. Dalam pendapat Anda, perwujudan anarkisme seperti apa cocok pada masa kini?

Saya cenderung untuk menyetujui bahwa anarkisme adalah tanpa bentuk dan utopis, meskipun lebih sulit ketimbang doktrin-doktrin kosong seperti neoliberalisme, Marxisme-Leninisme, dan ideologi lain yang telah menjadi acuan utama kaum penguasa dan para pembantu intelektual mereka, hal tak terlalu susah untuk dijelaskan, selama bertahun-tahun. Alasan bagi ketiadaan dan kekosongan intelektual dalam masalah ini secara umum (namun seringkali disamarkan dengan kata-kata bombastis, namun nyatanya itu kepentingan para intelektual itu sendiri) adalah bahwa kita belum begitu banyak memahami mengenai sistem yang kompleks seperti masyarakat manusia; dan hanya memakai intuisi yang terbatas kesahihannya soal bagaimana cara menata dan membangunnya ulang.

Anarkisme, dalam pandangan saya, merupakan sebuah ekspresi ide yang membebankan pembuktian kepada mereka-mereka yang menyatakan bahwa otoritas dan dominasi tetap diperlukan. Mereka-lah yang harus menunjukkan dengan argumen yang kuat, bahwa kesimpulan mereka benar. Jika mereka tidak bisa, maka institusi yang mereka bela mesti dianggap tidak sah. Reaksi seseorang terhadap otoritas yang tidak sah sepenuhnya tergantung pada keadaan dan kondisi tertentu: tidak ada rumus baku untuk hal ini.

Sekarang ini, isu yang muncul umumnya, sebagaimana yang biasa mereka lakukan: dari relasi di dalam keluarga dan tempat lain, pada politik internasional/tatanan ekonomi. Dan ide-ide anarkis – menantang otoritas dan menekankan bahwa otoritas hanya membenarkan dirinya sendiri – sangat tepat diterapkan untuk semua tingkatan.

3. Konsepsi sifat dasar manusia semacam apa yang menjadi dasar anarkisme? Akankah orang-orang dengan insentif lebih kecil bekerja di dalam masyarakat egaliter? Apa ketiadaan pemerintah akan membiarkan yang kuat mendominasi yang lemah ? Akankah pengambilan keputusan yang demokratis menghasilkan konflik yang berlebihan, situasi buntu dan “kekuasaan gerombolan “?

Sebagaimana yang saya pahami di dalam istilah “anarkisme”, kata-kata itu didasarkan pada harapan (dengan sikap ketidakacuhan kita tidak bisa bergerak lebih jauh dari itu) bahwa elemen inti sifat dasar manusia meliputi sentimen solidaritas, saling mendukung, bersimpati, kepedulian pada yang lain dan sebagainya.

Apakah orang akan bekerja lebih sedikit dalam masyarakat egalitarian? Ya, sejauh ini, mereka terdorong bekerja bagi memenuhi kebutuhan bagi kelangsungan hidup; atau oleh penghargaan material, semacam patologi (penyakit dalam masyarakat – penj), saya percaya, seperti jenis patologi yang menuntun beberapa orang mengambil kesenangan dari menyiksa orang lain. Mereka-mereka yang menyepakati doktrin liberal klasik yang menyatakan dorongan untuk terlibat dalam kerja kreatif merupakan inti sifat manusia – sesuatu yang kita lihat berulang-ulang, saya pikir, sejak masa kanak-kanak hingga jompo, saat keadaan memperbolehkan – akan sangat curiga terhadap doktrin-doktrin ini, yang sangat melayani kekuasaan dan otoritas namun tampaknya tidak memiliki manfaat lain.

Mungkinkan ketiadaan pemerintahan akan membiarkan yang kuat mendominasi yang lemah? Kita tidak tahu. Jika benar, maka bentuk-bentuk organisasi sosial mesti dibangun – terdapat banyak kemungkinan untuk itu – untuk mengatasi kejahatan ini.

Apa yang akan menjadi konsekuensi pengambilan keputusan yang demokratis? Jawabannya tidak diketahui. Kita mesti belajar dengan cara mencobanya. Mari kita coba laksanakan dan temukan jawabannya.

4. Anarkisme kadang disebut sosialisme libertarian – apa bedanya dengan ideologi-ideologi yang lain yang sering mengasosiasikan diri dengan sosialisme, misalkan Leninisme?

Doktrin Leninis berpandangan bahwa sebuah partai pelopor mesti mengambil alih kekuasaan Negara dan mengerahkan masyarakat untuk pembangunan ekonomi, untuk kemerdekaan dan keadilan. Ia adalah ideologi yang secara alamiah menjadi daya tarik besar terhadap kaum berpendidikan yang radikal, karena di dalamnya mereka memperoleh pembenaran untuk peran mereka sebagai pengelola negara. Saya tidak melihat satu alasan – baik secara logika ataupun sejarah – untuk menganggap hal itu sebagai sesuatu yang serius. Sosialisme libertarian (termasuk arus utama Marxisme yang cukup besar) dengan cukup tepat telah menolak segala hal yang menjijikkan ini.

5. Banyak kaum “anarko-kapitalis” mengklaim bahwa anarkisme bermakna kebebasan untuk berbuat apa saja terhadap kepemilikan Anda dan terlibat dalam kontrak bebas dengan yang lain. Apakah kapitalisme dalam suatu cara cukup sejajar dengan anarkisme sebagaimana Anda melihatnya?

Anarko-kapitalisme, menurut pendapat saya, merupakan sistem doktrin yang bila diterapkan akan menuntun pada bentuk-bentuk tirani dan penindasan dengan sedikit bandingnya dalam sejarah manusia. Tidak terdapat secuilpun kemungkinan bahwa (dalam pandangan saya, ini cukup menghebohkan) ide-ide tersebut dapat diterapkan, karena mereka akan dengan cepat akan menghancurkan masyarakat yang membuat kesalahan besar-besaran seperti ini. Ide tentang “perjanjian merdeka” antara raja dan hambanya yang kelaparan adalah lelucon yang menyakitkan, mungkin berhak mendapat waktu di dalam sebuah seminar akademis yang mengeksplorasi akibat-akibatnya (dalam pandangan saya, absurd) ide-ide tersebut, tapi tidak di tempat yang lain.

Bagaimanapun, mesti saya tambahkan bahwa saya menemukan diri saya dalam persesuaian memiliki sejumlah kesamaan pendapat dengan orang-orang yang menganggap diri mereka anarko-kapitalis dalam sejumlah isu; dan untuk beberapa tahun lamanya, diperbolehkan mengirimkan tulisan kepada jurnal mereka. Dan saya juga mengagumi komitmen mereka akan rasionalitas – yang sangat jarang – walau saya tidak berpikir mereka melihat akibat dari doktrin-doktrin yang mereka dukung, atau kelemahan moral mereka yang amat besar.

6. Bagaimana prinsip-prinsip anarkis diterapkan dalam bidang pendidikan? Apakah penggolongan dalam bentuk kelas-kelas, penilaian, dan ujian merupakan hal yang baik? Lingkungan seperti apa yang paling kondusif bagi kemerdekaan berpikir dan pengembangan intelektual?

Perasaan saya, yang sebagian bersandar pada pengalaman pribadi saya sendiri dalam persoalan ini, adalah bahwa sebuah pendidikan yang layak mesti berupaya menyediakan alur sehingga seseorang akan melakukan perjalanan dalam jalannya sendiri; pengajaran yang baik mirip seperti menyiram air pada tanaman, yang memampukan seseorang tumbuh atas kekuatannya sendiri, ketimbang sekedar memenuhi pot dengan air (pemikiran yang tidak original mesti saya tambahkan, kalimat-kalimat dari karya-karya penulis zaman Pencerahan dan liberalisme klasik). Ini merupakan prinsip umum, yang saya pikir secara umum valid. Bagaimana hal itu diterapkan dalam keadaan khusus mesti dievaluasi kasus per kasus, dengan segala kerendahan hati, dan pengakuan akan betapa sedikitnya hal yang kita ketahui.

7. Bisakah Anda gambarkan bagaimana masyarakat anarkis yang ideal akan berfungsi sehari-harinya. Lembaga ekonomi dan politik macam apa yang akan muncul, dan bagaimana fungsi mereka? Akankah kita menggunakan uang? Akankah kita berbelanja di pertokoan? Akahkah kita memiliki sendiri rumah kita? Akankah kita memiliki hukum? Bagaimana kita mencegah kejahatan?

Saya tidak akan bermimpi untuk mencoba hal seperti ini. Inilah hal-hal yang mesti kita pelajari lewat perjuangan dan eksperimen.

8. Apa prospek untuk mewujudkan anarkisme dalam masyarakat kita? Langkah seperti apa yang mesti kita ambil?

Prospek kemedekaan dan keadilan tidak terbatas. Langkah yang kita ambil tergantung apa yang ingin kita capai. Karenanya, dapat saja, tidak ada jawaban pasti. Pertanyaan tersebut salah diletakkan. Saya ingat slogan menarik dari gerakan petani pedesaan di Brasil (saya baru saja pulang dari sana): mereka katakan bahwa mereka mesti merperluas lantai kandang, hingga ke titik dimana mereka dapat menghancurkan jeruji besi kandang tersebut. Suatu ketika, bahkah diperlukan untuk mempertahankan kandang tersebut dari predator yang lebih buruk di luar sana: membela kekuasaan Negara yang tidak sah melawan tirani predator swasta di Amerika Serikat sekarang, sebagai contohnya, sebuah pendirian yang mestinya sangat jelas bagi seseorang yang berkomitmen kepada keadilan dan kemerdekaan – setiap orang, contohnya, yang sadar bahwa anak-anak mesti mendapat makanan untuk makan – namun hal tersebut kelihatannya sulit dimengerti bagi banyak orang yang menganggap dirinya sebagai kaum libertarian dan anarkis. Itulah salah satu dorongan merusak diri dan irasional dari orang yang baik yang menganggap diri mereka sebagai orang kiri, dalam pandangan saya,  memisahkan diri dalam praktek dari kehidupan dan aspirasi yang sah dari masyarakat yang menderita.

Demikianlah yang terjadi menurutku. Saya senang mendiskusikan masalah ini, dan mendengarkan argumen balasan, namun hanya dalam konteks yang membolehkan kita bergerak maju melampaui sekedar teriakan slogan – yang, saya takutkan, membuang penawaran terbaik dari apa yang disodorkan bagi perdebatan kalangan kiri, sayang sekali.

Noam

Dalam surat lain, Chomsky menawarkan perluasan pemikirannya tentang sebuah masyarakat masa depan:

Mengenai masyarakat masa depan, saya …mengulang-ngulang, namun hal merupakan sesuatu yang menjadi perhatian saya sejak saya masih kecil. Saya mengingat kembali, sekitar tahun 1940, membaca buku yang manarik karya Diego Abad de Santillan yang berjudul After the Revolution, yang mengkritik kawan-kawan sesama anarkis dan menguraikan dengan detil soal bagaimana kaum anarko sindikalis Spanyol melakukan karyanya (ini adalah ingatan berumur lima puluh tahun lebih, jadi jangan ambil secara harafiah). Perasaan saya waktu itu mengatakan ini kelihatan baik, namun apakah kita telah cukup mengerti untuk menjawab pertanyaan mengenai sebuah masyarakat dengan lebih detil? Selama bertahun-tahun, secara alamiah saya telah belajar lebih banyak, namun itu hanya memperdalam skeptisisme saya mengenai apakah kita cukup banyak mengerti. Di tahun-tahun belakangan, saya telah berdiskusi cukup banyak dengan Mike Albert [1], yang telah menyemangati saya untuk memuntahkan secara detil apa yang saya pikirkan mengenai masyarakat yang seharusnya, atau paling kurang bereaksi atas konsep “demokrasi partisipatoris” miliknya. Saya mundur, dalam kedua kasus tersebut, untuk alasan yang sama. Nampak bagi saya bahwa jawaban bagi pertanyaan demikian mesti dipelajari dari eksperimen. Ambil contoh pasar (ditingkatan bahwa mereka berfungsi di dalam setiap masyarakat berjalan  —  terbatas, jika catatan sejarah bisa menjadi panduan, mengecualikan logika). Saya memahami benar apa yang salah dari mereka, namun hal tersebut tidak cukup untuk menunjukkan bahwa sebuah sistem yang menghapuskan kerja pasar lebih baik; sekedar permasalahan logika saja, dan saya tidak berpikir kita mengetahui jawabannya. Sama dengan masalah yang lain juga.

Catatan Penerjemah:

[1]. Mike Albert atau Michael Albert, pendiri Z-net, Z-mag, bersimpati pada anarkisme, pengusung teori ekonomi anarkis, Parencon (Participatory Economy)

Diterjemahkan oleh Yerry Niko

Russian Revolution in Color (subtitle Indonesia)

Standard

whatsapp-image-2017-01-13-at-1-37-45-pmJelang 100 tahun peringatan Revolusi Rusia.

Donlot 2 (dua bagian dalam satu) film Russian Revolution in Color (subtitle Indonesia)

Donlot filenya 1,1GB (pastikan menggunakan WIFI gratis)

https://drive.google.com/open?id=0BznEFfWzCP1UZEN1M0xqcUFuMk0

 

Tonton online:

https://www.facebook.com/plugins/video.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2FAnarkisorg%2Fvideos%2F1170250213095467%2F&show_text=0&width=560

Bobo Makhoba (1975-2016)

Standard

bobo.jpgZACF berduka mengetahui wafatnya kawan Bobo Makhoba di Soweto pada Kamis 29 September 2016, di umur 41, setelah sakit panjang. Dia ditemani anak lelakinya, kepadanya kami menyampaikan simpati sedalam-dalamnya dan duka cita  bagi seluruh keluarga, handai taulan dan kawan-kawannya.

Bobo merupakan anggota pendiri ZACF juga salah satu dari tukang listrik gerilyawan dalam kampanye the Soweto Electricity Crisis Committee’s Operation Khanyisa yang secara ilegal meyambungkan jalur listrik kepada ribuan rumah tangga setelah diputusnya listrik karena tidak membisa membayar – yang memaksa Eskom, BUMN listrik Negara, menghapus tungakan ribuan warga Soweto.

dari http://www.anarkismo.net/article/29651

Anastasia Baburova

Standard

baburovaAnastasia Eduardivna Baburova (30 November 1983 – 19 January 2009) adalah seorang jurnalis bagi koran Novaya Gazeta dan mahasiswa jurnalistik di Moscow State University. Dia lahir di Sebastopol, Ukraina.

Selaku anggota dari Autonomous Action (Aksi Mandiri), dia melakukan investivigasi kegiatan kelompok-kelompok neo-Nazi. Dia ditembak dan terbunuh bersama dengan pengacara khusus Hak Azasi Manusia Stanislav Markelov, yang juga menjadi target pembunuhan bersamanya.

Continue reading

AS WE DON’T SEE IT

Standard

Oleh: Maurice Brinton – 1967

51jwg7sdntl-_sx356_bo1204203200_Ketika, di tahun 1967, kami mempublikasikan “As We See It” kami merasa dokumen tersebut telah sekaligus akurat dan sebuah ikhtisar yang lumayan ringkas akan pandangan-pandangan kami. Alternatif-alternatif telah diskusikan dan setiap upaya yang mungkin telah kami lakukan untuk menghindarkan sikap bimbang. Kami pikir kami telah menghasilkan teks yang cukup terus terang,penerimaan yang semestinya jadi pijakan pokok kepercayaan kepada kelompok SOLIDARITY.

Setelah bertahun-tahun kami menyadari bahwa kami telah keliru, ada pada sesuatu yang salah dengan dokumen – atau dengan beberapa orang yang telah membacanya. Atau kemungkinan ada suatu persoalan dengan kami – karena telah menganggap teks tersebut sebagai penjelasan-pribadi. Kaum radikal terus saja mengatakan kepada kami bahwa mereka setuju dengan setiap kata dari pernyataan tersebut … disaat berikutnya bertanya kepada kami mengapa kami tidak melakukan kerja faksi didalam Partai Buruh (Labour Party), atau hidup dalam komune-komune, atau berkampanye bagi S.B (Serikat Buruh) “kiri”, atau memuji-muji Black Panther atau rejim anti-imperialis Karume di Zanzibar, atau berpartisipasi dalam agitasi anti-Pasar Bersama. Beberapa orang bahkan menanyakan mengapa kami tidak mendukung pendirian sebuah, Partai Leninis yang revolusioner.

Kami sekarang merasakan perlunya memberi sentuhan akhir pada dokumen ini. Yang hadir selanjutnya adalah sebuah upaya untuk menyatakan pemikiran yang tadinya hanya berupa saran secara lebih terbuka, dan merumuskan saran yang tadinya hanya dinyatakan secara tidak langsung. “As We Don’t See It” akan menyampaikan isi pokok yang umum tentang apa yang ingin kami nyatakan terbuka. Dalam upaya menghindari kebingungan lebih jauh kami juga akan mendiskusikan beberapa hal yang tidak dibahas dalam teks asli.

Disini kami mencetak ulang kedua teks: pertama As We See It yang asli, kemudian uraian-uraian kami.

Continue reading

‎1921-1953: Sebuah Kronologi Anarkisme Rusia

Standard

Sebuah daftar singkat gerakan anarkis dan aktivitas anarkis di Uni Soviet, dan represi yang diterimanya dari otoritas Soviet setelah Revolusi Rusia.

“Tapi kami tidak takut terhadap anda atau penjagal anda. ‘Keadilan’ Soviet dapat membunuh kami, tapi anda tidak akan pernah membunuh cita-cita kami. Kita akan mati sebagai anarkis dan bukan sebagai bandit. “

– Anarkis Fedor Petrovich Machanovski dihadapan Pengadilan Revolusioner Petrograd, 13 Dan 22 Desember 1.922

Continue reading

Freie Arbeiterinnen und Arbeiter Union (Serikat Buruh Merdeka – FAU)

Standard

Serikat buruh merdeka FAU/IAA atau Freie Arbeiterinnen und Arbeiter Union – Internationale ArbeiterInnen Assoziation merupakan serikat buruh anarko-sindikalis yang bekerja di wilayah rumpun bahasa Jerman. Gerakan anarko-sindikalis juga hadir di wilayah lain seperti Inggris, Prancis, bahkan Nigeria di Afrika. Saat ini, serikat buruh anarkis di sejumlah wilayah di dunia masih bergabung dalam federasi anarkis sedunia International Workers’ Association yang dikuatkan dalam Kongres di Berlin tahun 1922. International Workers’ Association (IWA), dalam bahasa Spanyol disebut Asociación Internacional de los Trabajadores (AIT) sebagaimana CNT/AIT, atau Prancis, Association Internationale des Travailleurs (AIT).

Continue reading

Peran Organisasi Revolusioner

Standard

peran organisasi revolusioner

Kaum Anarkis komunis memiliki visi tentang organisasi revolusioner yang sangat berbeda dari partai atau kelompok yang beriorentasi negara atau sentralistik. Tapi ada sesuatu yang bermasalah dengan ide kelompok informal yang didukung oleh beberapa anarkis. Untuk memahami mengapa individu revolusioner perlu menjadi bagian penting dari organisasi revolusioner. Maka sangat penting untuk menggambarkan bagimana wujudnya; Strukturnya, hubungannya dengan kelas pekerja dan landasan teoritis dari hubungan yang diintegrasikan dengan pemahaman yang tepat tentang spontanitas kelas.

Dua puluh tahun pertama dari abad ke-20 menjadi saksi perubahan watak kapitalisme. Kapitalisme secara tradisional di atur oleh hukum politik oligarki (Iron law) dari suplai dan permintaan. Sekarang apa bahan-bahan yang diproduksi semakin berkurang berbanding lurus peningkatan marjin laba yang dicapai. Kebutuhan ekonomi dan sifat tak terelakkan dari teknologi menunjukkan peningkatan investasi dan produksi tapi tak berarti akan menambah jumlah pekerjaan.

Continue reading